July 4, 2014

Prabowo atau Jokowi, opini seorang anarkis

An obligatory Pusheen picture.

Kelingking saya perawan.

Saya adalah sifat anarkis yang menjelma menjadi seorang manusia. Umur saya 22 tahun, tapi saya tidak pernah mencoblos sekali pun seumur hidup. Awalnya bermula karena saya tidak pernah berada di Indonesia ketika periode pemilu berlangsung, tapi entah sejak kapan ke-golput-an menjadi sesuatu yang saya banggakan. Bahkan ketika Starbucks atau vendor-vendor lain mengiming-imingi pencoblos dengan diskon dan promo lainnya, saya masih menjaga keperawanan kelingking saya dan bersikeras mempertahankan ke-golput-an saya.

Dengan enggan saya mengakui ini, tapi saya baru tahu bulan lalu kalau mencoblos dilakukan dengan menggunakan paku. Saya selalu berpikir bahwa aktivitas pencoblosan dilakukan dengan mencelupkan jari kelingking ke tinta dan mencobloskan jari bertinta tersebut ke kertas. 


Saya adalah orang yang cukup pintar. Jika IQ adalah satu-satunya indikasi kepintaran, saya lebih pintar dari 98% manusia di bumi ini. Sayangnya, IQ bukanlah indikasi kepintaran yang sah. Dan saya telah menunjukkan betapa terbelakangnya saya dalam urusan politik.

Oleh karena itulah, saya tidak akan menulis dari sudut pandang politik, atau bahkan mengenai bagaimana Mr. P dilanda tuduhan mendalangi kerusuhan Mei 1998, atau tuduhan penculikan dua mahasiswa menjelang Orde Baru, atau bahkan tuduhan kudetanya terhadap pemerintahan Habibie. Karena kita tidak akan bisa tahu mengenai kebenaran isu-isu tersebut.

Melainkan, saya ingin mengalihkan perhatian kita kepada isu-isu lain yang lebih saya kuasai, ekonomi. Sebenarnya, topik balet juga lebih saya kuasai jika dibandingkan dengan politik. Anyway.

Salah satu janji dalam kampanye Mr. P yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika ia mengatakan akan menaikkan upah buruh menjadi enam juta Rupiah, atau menjadi 2.5 kali lipat dari upah buruh yang sekarang. Janji ini, tentu saja, menarik bagi para buruh yang kurang memiliki pengertian tentang kondisi ekonomi makro Indonesia. 

Mari kita anggap  perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan buruh-buruh tersebut tidak keberatan membayar enam juta Rupiah untuk tiap buruh per bulannya. Kenaikan gaji buruh sebesar 150% berimplikasi kenaikan biaya produksi setidaknya 150%. Tentu, buruh-buruh sekalian akan memiliki nominal uang yang lebih banyak dari sebelumnya. Hal yang mereka tidak ketahui adalah konsep inflasi. Dengan membengkaknya biaya produksi, tentunya harga setiap barang di market akan mengalami kenaikan yang signifikan juga. Janji Mr. P ini bukannya mensejahterakan kehidupan buruh, melainkan malah menghancurkan perekonomian Indonesia.

Janji manis ini hanyalah memperkuat poin yang diulas oleh Anies Baswedan dalam pidatonya "Mengapa Jokowi?" Dalam pidato tersebut, Anies Baswedan mengatakan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pengertian mendalam tentang ekonomi makro; selain itu, ia juga menyindir mengenai Mr. P yang menelan mentah-mentah estimasi kebocoran anggaran negara sebesar 7,000 triliun Rupiah yang dikemukakan oleh KPK.

Tujuh ribu triliun Rupiah. Just let that sink in. PDB Indonesia pada tahun 2012 hanyalah sebesar 878 miliar USD (atau 8,780 triliun Rupiah). Masak sih anggaran negara bocor 80% dari PDB? Lak yo gak mungkin toh?

Bahkan ketika melihat debat antar capres, saya rasa cukup jelas siapa di antara mereka berdua yang lebih menguasai isu-isu yang mendesak Indonesia. Berbicara murni dari sudut pandang ekonomi, cukup jelas lah pemimpin mana yang akan membawa Indonesia ke arah yang seharusnya.

10 tahun sudah Indonesia dipimpin oleh seorang presiden yang, jika kita telaah ke belakang, prestasi positif terbesarnya adalah menciptakan empat album lagu. Tiba kiranya kita memilih sebuah pemimpin yang berani melakukan sesuatu, seorang pemimpin yang memang turun tangan. 

Jokowi baru saja menghabiskan sepertiga masa jabatannya sebagai gubernur Jakarta, namun kita sudah dapat merasakan apa yang Beliau lakukan. Pluit tak lagi merasakan air bah tiap musim hujan dan Tanah Abang sekarang sudah lebih bersahabat. Bayangkan apa yang akan Beliau lakukan jika diangkat menjadi pemimpin Indonesia?

Tulisan ini bukanlah sebuah persuasi, melainkan sebuah justifikasi. Saya hanyalah seorang bocah ingusan yang berpikir bahwa coblosan itu dilakukan menggunakan jari bertinta. Saya rasa para pembaca sekalian lebih berwawasan dan bisa memilih pemimpin yang akan membawa Indonesia ke jalan yang sebenarnya.

Kelingking saya perawan. Tapi untuk Jokowi, saya bersedia melepaskannya.


July 2, 2014

Why am I still single?


Let's play a guessing game.

How old, do you think, is Earth?

If you're like me and are totally oblivious to geology and history, chances are you might guess around millions. If, for whatever reason, you guessed two thousands years old, please close your browser and tell your parents they gave birth to an idiot. Earth, actually, is 4.54 billion years old. 

How old, then, is Humanity?

The answer for this question varies. Some say it's 6,000 years old. Some say it ranges somewhere between 100,000-200,000 years old. I wouldn't delve into technicality. Yet, my point remains. Humanity is old.

Which brings me to my other question, how old do you think you're gonna be when you die?

Probably 70. Or 80 if you're lucky. Maybe 90. Unless scientists develop some amazing gene manipulation process that would allow gene revitalisation, we inevitably die. I would. You would. For your parents and mine, my pets and yours, your significant other, your children, their children, death is inevitable.

Then what happens when we die? And I'm not talking about life after death or about heaven and/or nirvana or hell. I'm talking about the people we leave behind; what would they do when we die?

Compared to how long Humanity (or Earth) has existed, we're really just a speck of dust in this evolution process. One day, we would die and everyone else we leave behind would cry. Maaayyyybe they would pray or burn some incense.

And then they would move on with their lives. 

Augustus Waters, the protagonist in The Fault in Our Stars admitted that his deepest fear was Oblivion. He feared being forgotten. To have walked off this Earth and forgotten and disregarded as just another mortal. 

Being forgotten is terrible. And I also am afraid of it. Probably second only to cockroaches. Before I die, I would like to leave something, anything. That way when I'm dead and people think of me, they would also think of the things I leave behind. They would look at the scar I gashed on this world, and realise that I. Have. Lived. That I was not just another person who walked this Earth lightly without leaving something.

Which brings me to the title of this post. Why am I single?

Countless people had asked me this question before I decided to write this post. There are so many reasons I could churn as to why I'm not in a relationship: Haven't found the right one, not yet ready financially, still need my freedom, and probably another dozen excuses. But really, the reason I'm still walking alone is because I need to gash a scar in this world; because I want to leave behind something less temporary than myself. And being in a relationship doesn't help me achieve that.

It just so happens that my preferred method of scar-inducing is writing.

What's yours?